Legenda Pahlawan Perempuan dari Tanah Kalimantan: Aminah Syukur
Kalimantan tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan keindahan budayanya, tetapi juga karena melahirkan sosok-sosok perempuan tangguh yang berperan penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
MASING-MASING memiliki cerita yang berbeda, bagaimana cara mereka keberanian, keteguhan, serta semangat juang. Namun dari kisahnya, ada amanat dan warisan berharga yang telah mereka perjuangkan.
Rimbunnya hutan tropis di Kalimantan menyimpan kisah tentang perjuangan para perempuan yang luar biasa. Berikut kisahnya:
Dari tanah Borneo, ada salah satu tokoh penting pejuang kemerdekaan perempuan di Kalimantan Timur (Kaltim), ialah Aminah Syukur. Perempuan bernama asli Atje Voorstad yang berdarah Indo-Belanda ini, punya perjalanan hidupnya yang jauh dari tanah kelahirannya, Palembang.
Takdir membawanya ke Kota Samarinda. Di Kota Tepian Mahakam itu, ia menemukan panggilan hidupnya. Setelah memeluk Islam dan menikah dengan pemuka lokal, ia mengganti namanya menjadi Aminah Syukur.
Tahun 1928 menjadi titik penting. Bersama suami keduanya, Mohammad Jacob, Aminah mendirikan Meisje School, sebuah sekolah khusus perempuan di Yacob Steg yang kini dikenal sebagai Jalan Mutiara.
Pada masa kolonial, kesempatan belajar bagi perempuan pribumi hampir tak ada. Aminah menentang batasan itu. Ia percaya bahwa perempuan berhak mendapatkan ilmu setara dengan laki-laki.
Di masa ketika perempuan hanya diharapkan mengurus rumah tangga, Aminah datang dengan pandangan yang berbeda. Ia menggerakkan perubahan melalui ruang kelas. Ia berjalan kaki, mendatangi rumah muridnya, mengajar dengan penuh kesabaran, dan memegang teguh keyakinan bahwa ilmu adalah kunci pembebasan.
Walau fokusnya pada murid perempuan, sekolah ini juga membuka pintu untuk beberapa murid laki-laki. Salah satunya adalah Abdoel Moeis Hassan, keponakan Aminah, yang kelak menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di Kaltim.
Keputusan ini menunjukkan bahwa bagi Aminah, pendidikan adalah hak semua anak, tanpa membedakan gender. Aminah tak hanya mendirikan sekolah, ia kemudian mengajar di berbagai sekolah formal seperti SD Negeri Sungai Pinang, SD Permandian, dan Sekolah Kepandaian Puteri.
Bahkan setelah jam sekolah selesai, ia masih menyempatkan diri mendatangi rumah-rumah muridnya untuk memberi pelajaran tambahan. Rumahnya di Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Diponegoro) pun kerap berubah menjadi ruang kelas dadakan.
Di usia yang telah melewati 60 tahun, Aminah tetap aktif mengajar tanpa pernah mengharap imbalan. Baginya, kepuasan datang dari melihat muridnya bisa membaca, menulis, dan menggapai masa depan.
Perjalanan mengajar Aminah dari satu sekolah ke sekolah yang lain dengan jarak yang cukup jauh patut diapresiasi. Ia kemudian akrab disapa anak-anak sebagai ‘Nenek Belanda’ karena perawakannya yang memang keturunan Belanda.
Kegigihannya membuat Aminah menjadi salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di Kaltim. Ia memajukan peradaban perempuan di Kaltim, yang jejaknya masih berbekas di Kota Samarinda.
Nah, itulah tadi kisah-kisah para pahlawan perempuan dari tanah Kalimantan. Saatnya kita melanjutkan jiwa juang dan berani dari para pahlawan. (*)



